SEKOLAH MANUSIA

Spread the love
Albert Efendi Pohan, S. Pd., M. Pd Praktisi Pendidikan Vokasi SMK Negeri 5 Batam

Sekolah manusia dalam arti sederhana dapat dikatakan sebagai instansi Pendidikan yang dikelola oleh manusia sungguhan sesuai dengan ketentuan kriteria pencipta manusia itu sendiri. Banyak khalayak mengatakan bahwa sekolah manusia adalah sekolah yang tenaga pengajarnya sangat professional dan memiliki kualifikasi Pendidikan yang bukan sembarangan. Yaitu tenaga pengajar lulusan dari universitas-universitas berkelas baik di dalam negeri maupun dari luar negeri dengan gelar sarjana, magister, dan bahkan doktor. Pendapat lain juga mengatakan Sekolah Manusia itu merupakan sekolah yang memiliki fisik bangunan yang megah, mewah, memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dan metode pembelajaran yang mutakhir dengan sistem yang terintegrasi yang dapat menunjang proses belajar mengajar menjadi lebih efektif. Di samping itu, ada juga yang berpendapat sekolah yang siswanya berasal dari keluarga konglomerat dan anak-anak pejabat serta siswa-siswi pilihan melalui tes masuk yang sangat ketat. Namun, apakah kondisi sekolah yang dipaparkan di atas merupakan gambaran Sekolah Manusia yang sesungguhnya?

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang harus melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan aturan Tuhan sebagai pencipta dan pemilik kuasa tertinggi yang tidak bisa diinterpensi oleh manusia. Untuk itu manusia harus senantiasa belajar sepanjang masa agar dapat memahami hukum-hukum Tuhan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Secara khusus, tujuan manusia diciptakan adalah menjadi pengabdi setia Tuhan melalui penghambaan diri dan pemasrahan diri kepada kehendakNya semata. Dan tidak menjadikan selainNya sebagai hal lain yang berhasil mencuri penghambaan diri kita. Di dalam firmanNya yang berbunyi : “Dan tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu…” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56). Ayat ini adalah indikator mutlak yang harus digaris bawahi manusia untuk merencanakan segala sesuatu agar memiliki koneksitas terhadap tujuan penciptaan manusia itu sendiri. Sehingga kegiatan ibadah, pekerjaan, dan ikhtiar yang direncanakan dan dilakukan oleh manusia tidak keluar dari subtansi kehendak Tuhan melainkan menjadi faktor bertambahNya curahan kasih sayangNya.

Untuk mencapai tujuan penciptaan diri kita sebagai manusia tentu harus melewati proses pendidikan yang berkesinambungan baik Pendidikan formal maupun Pendidikan non-formal. Didik oleh tenaga pendidik yang serius bertuhan dan memiliki kemampuan yang teruji sesuai dengan bidangnya masing-masing. Di samping itu, peserta didik harus benar-benar bersekolah di Sekolah Manusia yang tidak hanya berorientasi kepada pencapaian dan penguasaan ilmu pengetahun dan keterampilan keduniawaian saja. Sekolah Manusia ini harus memiliki visi dan misi yang suci untuk berusaha mendekatkan peserta didiknya kepada Tuhan. Karena tidak sedikit ilmu pengetahuan menjauhkan manusia dari Tuhan.

Prihal pertama dan utama dalam pembentukan Sekolah Manusia adalah memiliki pemimpin yang menjadikan aturan Tuhan sebagai azas untuk merumuskan, menerapkan, dan mengukur kegiatan di sekolah tersebut. Mengoptimalkan pelaksanaan perintah Tuhan dengan menjadikan dirinya sebagai contoh yang demonstrative dan figurative. Sehingga aktualisasi diri sebagai contoh pemimpin yang bertuhan dapat membentuk ekosistem Pendidikan yang berketuhanan. Mengajak dan menggandeng seluruh jajaran bawahannya untuk menjadikan aturan Tuhan sebagai prihal yang harus diterlebih dahulukan dalam urusan sekolah. Dengan demikian kondisi ini dapat memberikan pengaruh kepada peserta didik sebagai makhluk imitative untuk mengikuti atau sekedar mencotoh apa yang mereka lihat di lingkungan sekolah itu. Selanjutnya pemimpin merancang, menunaikan, memantau, memperbaiki, dan mengevaluasi tugas-tugas bawahan dengan professional secara sungguh-sungguh, jujur dan transparan berdasarkan regulasi yang disepakati.

Pembentukan Sekolah Manusia tidak hanya terletak dipundak seorang pimpinan sekolah, melainkan keterlibatan seluruh wakil-wakilnya, dewan guru, dan seluruh elemen yang tergabung di sekolah tersebut. wakil-wakil dimaksudkan dalam hal ini adalah seperti Wakil Kepala Bagian Kesiswaan, Kurikulum, Sarana, dan Hubungan Masyarakat. Wakil Kepala bagian Kesiswaan memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun Sekolah Manusia ini dengan membuat peraturan yang efektif dan berazas. Kesiswaan tidak hanya bertanggung jawab untuk menertibkan masuk dan keluar siswa dari mulut gerbang sekolah di pagi hari dan sore hari. Tidak hanya menyelenggarakan kegiatan-kegiatan internal sekolah yang dapat menumbuh kembangkan minat dan bakat siswa dalam mencari jati dirinya. Namun tugas hakiki yang harus diemban Kesiswaan adalah menertibkan dan melibatkan diri dalam pelaksanaan kewajiban sebagai hamba Tuhan seperti sholat dan pelaksanaan budi pekerti berbasis agama di Mesjid. Kesiswaan tidak hanya menampakkan kemarahannya ketika siswa melanggar peraturan sekolah, namun harus lebih marah ketika siswa berani melanggar peraturan Tuhan yang menciptakannya. Sehingga hak Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Agung tidak tertukar oleh wewenang manusia sebagai makhluk biasa. Begitu juga kondisi ini tidak membentuk kognisi dan kesadaran yang salah, yaitu siswa lebih takut dan taat kepada sesama manusia biasa dari pada Allah Tuhan yang memiliki kekuasaan tertinggi.

Wakil kepala bagian Kurikulum memiliki fungsi dan peranan yang sistematis untuk merancang pembelajaran yang tidak sekedar berorientasi pada peningkatan mutu dan kualitas Pendidikan secara umum. Namun yang lebih penting adalah Kurikulum harus mampu merancang konsep pembelajaran yang orientasinya pada peningkatan pengenalan dan ketundukan manusia kepada kehendak Tuhannya dan juga penguasaan pengetahuan dan berbagai keahlian. Dan perlu menggaris bahawai bahwa bukan sistem yang dibangun yang akan paling berpengaruh terhadap kelancaran proses pembelajaran yang diharapkan, melainkan adanya restu dari Tuhan Yang Maha teliti. Untuk itu, Kurikulum harus meningkatkan peranannya sebagai pihak yang memiliki kebijakan ke mana arah Pendidikan itu diorientasikan. Dan tentunya meningkatkan keterlibatan diri dalam merangkul siswa untuk menunaikan orientasi pembelajaran yang dirancang, yaitu siswa yang serius bertuhan seperti menunaikan sholat berjamaah di sekolah.

Wakil kepala sekolah lainnya beserta dengan guru sebagai tenaga pengajar secara langsung memiliki fungsi dan peranan yang penting dalam membangun Sekolah Manusia. Guru sebagai contoh pertama yang diperhatikan sisiwa baik di dalam ruangan pembelajaran maupun di tengah-tengah masyarakat harus menyadari bahwa dirinya adalah sumber inspirasi dan pemikiran bagi siswa. Dalam hal ini khususnya Guru Agama yang secara moral dan struktural memiliki tugas pokok untuk mengajarkan nilai-nilai agama berlandaskan dalil yang sahih dan mencontohkan pelaksanaan perintah agama di tengah-tengah siswa sesuai dengan hukum fiqihnya. Guru agama yang merupakan pusat percontohan penerapan anjuran agama harus mampu memposisikan dirinya sebagai sosok tauladan murni. Sebagai guru agama harus terlibat dalam membentuk Sekolah Manusia melalui praktek ajaran dan anjuran agama di lingkungan sekolah secara rutin dan istiqomah. Hal ini sejalan dengan filosifis dan idelogi bangsa Indonesai, yaitu Pancasila pada Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan juga prinsip Pendidikan yang dirumuskan oleh Bapak K. Hazar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan yaitu “Inggraso sung tulodo”. Setiap guru harus menjadi contoh yang sebaik-baiknya sesuai dengan bidang yang diajarkannya baik di depan siswa maupun di tengah-tengah masyarakat. Penerapan anjuran agama di lingkungan sekolah harus dievaluasi secara berjenjang untuk mengetahu berbagai persoalan yang terjadi dan selanjutnya merumuskan langkah kongkrit untuk mengatasinya.

Berdasarkan paparan singkat di atas, Sekolah Manusia tidak hanya dipengaruhi oleh kelengkapan infrastruktur sekolahnya, kualifikasi tenaga pengajarnya, sistem dan metode pembelajarannya, melainkan peranan pimpinan sebagai sentral kekuasaan dan keterlibatan seluruh jajaran dalam membentuk ekosistem sekolah yang berazas hukum Tuhan. Dimana seluruh aspek dan sistem yang terkait dengan urusan sekolah dibangun dengan landasan yang berketuhanan secara bersama dan transparan sehingga tidak ada aspek yang mendahului hak Tuhan dalam proses pelaksanaan apapun. Adanya kerjasama seluruh jajaran secara istiqomah menunaikan anjuran Tuhan di lingkungan sekolah. Mengajak dan mendampingi peserta didik untuk lebih mengenal, lebih dekat, lebih mesra dan lebih tunduk kepada Tuhan melalui pengamalan kewajiban yang mutlak harus dilakukan, yaitu menunaikan sholat wajib secara berjamaah. Dengan demikian, Sekolah Manusia dapat terbentuk dengan optimal yang akan menghasilkan sumber daya manusia yang serius bertuhan, berwawasan global dan berkompetensi unggul dalam menapaki kehidupan yang melewati jalan menuju hadirat Tuhan, sebagai tempat terakhir yang kekal dan abadi. Dengan terbentuknya Sekolah Manusia, maka populasi manusia yang hidup Bahagia akan meningkat sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional, yaitu mengantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki lewat penghambaan Kepada Allah Yang Menguasai Seluruh Ikhtiar Manusia.

Salam Literasi.
Albert Efendi Pohan, S. Pd., M. Pd
Praktisi Pendidikan Vokasi
SMK Negeri 5 Batam

2 Comments on “SEKOLAH MANUSIA”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *