Disdik Kepri Lakukan Visitasi Pendidikan Inklusif di Kota Batam

07 Agustus 2025, 20:00 WIB 309 kali dibaca
Kategori : Disdik
f/rusidi

KEPRI (DISDIK)— Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan pendidikan inklusif. Salah satu upayanya diwujudkan melalui kegiatan visitasi ke sekolah-sekolah di Kota Batam yang dilaksanakan dalam dua tim, dengan tujuan meninjau kesiapan sekolah dalam menyediakan layanan pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Tim pertama melakukan kunjungan ke SMKN 10 Batam, dengan fokus pada program keahlian tertentu yang dinilai potensial menyerap siswa ABK. Visitasi ini didampingi oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ivonie Sumbari, S.S.,  M.Pd., serta beberapa guru. Di sekolah ini, tercatat dua siswa berkebutuhan khusus yang saat ini duduk di kelas X dan XI, masing-masing tergolong dalam kategori tunagrahita ringan.

Kondisi kedua siswa tersebut terbilang cukup baik. Para guru juga telah menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI) guna memastikan proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dukungan dari teman-teman sebaya pun patut diapresiasi, karena tidak ditemukan kasus perundungan terhadap kedua siswa tersebut. Lingkungan belajar yang inklusif mulai terbangun secara positif.


Sementara itu, tim kedua mengunjungi SMAN 1 Batam, didampingi langsung oleh Kepala Sekolah, Bahtiar, M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ida Royani, S.Pd., serta guru pendamping, Hanafi, S.Pd. Di sekolah ini, beberapa siswa dengan kebutuhan khusus telah teridentifikasi. Dua di antaranya adalah seorang siswa  slow learner  dan satu siswa tuna daksa  yang mengalami skoliosis sejak lahir. Selain itu, terdapat juga beberapa siswa yang menghadapi permasalahan psikologis serta kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Penanganan terhadap siswa berkebutuhan khusus di SMAN 1 Batam berjalan cukup baik. Para guru mulai memahami dan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan inklusif, serta menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi seluruh siswa. Tidak ditemukan indikasi perundungan terhadap siswa ABK di sekolah tersebut.


Untuk siswa yang menghadapi permasalahan psikososial dan KDRT, tim merekomendasikan agar penanganan dilakukan secara lebih lanjut dengan melibatkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kepri. Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan instansi terkait untuk memastikan penanganan yang tepat dan berkelanjutan.


Secara umum, hasil visitasi menunjukkan bahwa kedua sekolah telah memulai upaya menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan inklusif. Namun demikian, pendampingan lebih lanjut masih dibutuhkan, terutama dalam hal penyusunan kebijakan internal sekolah serta pelatihan guru secara berkelanjutan (tim/rusdi).



Editor : Abidin

Editor: Agam Yusliman