KEPRI (DISDIK) – Suasana lomba fashion show dalam rangka peringatan Hari Kartini diwarnai momen hangat dan inspiratif ketika Ny. Nurningsih Andi Agung, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, mengunjungi stand “Kopi Disabilitas” yang dikelola oleh siswa-siswi dan guru SLBN Bintan.
Dengan penuh antusias, Bu Ningsih tak hanya mencicipi kopi buatan tangan para siswa tuna rungu itu, tapi juga mencoba langsung bahasa isyarat saat memesan. Didampingi oleh guru pendamping, ia dengan cepat membaur dan menunjukkan dukungannya yang nyata terhadap kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus.
"Saya apresiasi ya, semoga apa yang mereka kerjakan ini diridai Allah dan anak-anak sehat semua,” ujar Bu Ningsih, Kamis (24/4).
Dari ide sederhana, lahir sebuah gerakan Kepala SLBN Bintan, Deritawati, menceritakan bagaimana ide Kopi Disabilitas lahir dari keinginannya membangun jiwa kewirausahaan di kalangan siswa SLB. Terinspirasi dari barista disabilitas di Jakarta, ia kemudian menggagas pelatihan meracik kopi bagi anak-anak tuna rungu di Tanjung Uban.
"Selama ini kita angkat batik Tapi karna batik sudah banyak. Jadi kami ingin coba hal baru yang belum ada di Kepri, yaitu kopi disabilitas," tutur Deritawati.
Dua siswa dan satu guru pendamping dikirim belajar di Kopi Tengah Kota, mulai dari pengolahan biji kopi hingga penyajian. Kini, mereka hadir dengan racikan khas yang bisa disesuaikan sesuai selera pembeli.
"Kopinya buatan sendiri, rasanya punya ciri khas. Bisa pilih mau lebih strong atau creamy,” jelasnya.
Mengajarkan Kemandirian & Mengenalkan Bahasa Isyarat
Selain membangun skill, Deritawati juga ingin memperkenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat luas. Setiap pembeli diwajibkan menggunakan bahasa isyarat saat memesan, tentunya dengan panduan dari guru pendamping.
"Kami ingin masyarakat tahu bahwa anak-anak disabilitas juga bisa menjadi barista, bisa mandiri, dan layak diberi ruang di tengah masyarakat. Mereka tidak boleh disisihkan, mereka punya kelebihan,”ungkapnya.
SLBN Bintan kini aktif mengikuti berbagai event untuk memperkenalkan Kopi Disabilitas ke masyarakat. Dua produk utama mereka sudah siap saji, dan ke depannya mereka berharap bisa dikenal lebih luas.
Peserta yang hadir terlihat memberikan dukungan moral yang begitu berarti bagi para siswa SLBN Bintan dan para penggagas program ini. Menjadi semangat tersendiri dalam memperjuangkan ruang dan hak anak-anak disabilitas untuk berkembang (tim/din).
Editor: Abidin