TANJUNGPINANG (DISDIK) — Jumlah murid berkebutuhan khusus di Kepulauan Riau terus bertambah, sementara jumlah guru yang menangani mereka masih terbatas. Untuk menjawab persoalan ini, Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau meluncurkan Gurindam, platform digital untuk meningkatkan kompetensi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di seluruh Kepri.
Inovasi ini digagas Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Disdik Kepri, Suhadi, S.Sos., M.Si. Dalam proses menyusunnya, Suhadi dibimbing oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Dr. Andi Agung, S.E., M.M., yang menjadi mentornya.
Kepada Media ini Suhadi menjelaskan, gagasan ini berangkat dari ketidakseimbangan antara jumlah murid dan guru pendidikan khusus. Kebutuhan itu terasa paling besar di Batam, yang memiliki banyak anak berkebutuhan khusus (ABK) dan penyandang disabilitas dengan berbagai jenis ketunaan.
Di sisi lain, sekolah negeri untuk pendidikan khusus di Batam hanya dua. Sekolah swasta memang ada, tetapi masyarakat cenderung memilih sekolah negeri. Biaya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus juga lebih besar karena membutuhkan peralatan pendukung yang harganya mahal, misalnya untuk anak tunarungu.
"Usaha saya supaya jumlah guru yang sedikit tetap memiliki kompetensi yang tinggi dan menguasai teknik mengajar yang baik, sehingga sebanyak apa pun muridnya, di luar keterbatasan itu bisa dirangkum semua," ujar Suhadi.
Dijelaskanya bahwa Gurindam adalah singkatan dari Guru Inovatif Digital, Artificial Intelligence, dan Pembelajaran Mendalam. Platform berbasis situs web ini memuat sejumlah fitur, di antaranya:
• peningkatan kemampuan guru dalam menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI);
• penguatan pembelajaran mendalam;
• pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence);
• pembuatan kelas dan penerbitan sertifikat;
• ruang komunitas bagi guru dari berbagai kabupaten/kota.
Menurut Suhadi, platfor Gurindam dibuat khusus untuk pendidikan khusus. Selama ini, wadah seperti itu belum tersedia bagi guru SLB.
Digitalisasi dipilih agar guru tidak perlu sering bertemu langsung. Cara ini diharapkan menjawab kendala geografis Kepri, terutama bagi guru di daerah seperti Natuna dan Lingga, yang jarang mengikuti pelatihan dan kerap terkendala jaringan internet.
Selama ada sinyal, guru dapat membuka Gurindam untuk berbagi informasi, modul, dan pengalaman. Dengan begitu, rentang kendali dan pelatihan tatap muka dapat dikurangi, dan anggaran dapat digunakan lebih efisien.
Suhadi menyebut komunitas ini juga menjadi ruang berbagi ilmu. Guru PNS yang lebih berpengalaman dapat membimbing guru-guru muda dan PPPK yang baru bertugas. Guru berprestasi, misalnya dari Batam, dapat membagikan modul dan materi ajarnya kepada rekan di daerah lain yang belum memilikinya.
Tantangan lain adalah latar belakang pendidikan guru. Menurut Suhadi, tidak banyak guru SLB di Kepri yang berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB). Dari pengalamannya, persentasenya diperkirakan hanya sekitar 10 persen. Sebagian besar guru adalah guru mata pelajaran, seperti kimia, fisika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, yang kemudian mengajar di SLB.
Karena itu, guru PLB diharapkan berbagi cara mengajar yang baik melalui Gurindam. Pengawas dan kepala sekolah yang berpengalaman juga dapat bergabung dan berbagi dengan rekan-rekannya. Dengan cara ini, Gurindam diharapkan menjadi pusat sumber belajar bagi guru-guru SLB se-Kepri.
Gurindam telah mendapat izin Kepala Dinas Pendidikan. Pihak Disdik juga sudah menyampaikan informasinya kepada para guru dan mengirim surat ke setiap sekolah. Sejak awal Oktober, guru dan kepala sekolah sudah dapat mengisi platform tersebut.
Saat ini terdapat 26 SLB di Kepri, terdiri atas 11 sekolah negeri dan 15 sekolah swasta, yang tersebar di tujuh kabupaten/kota. Suhadi berharap Gurindam dapat membantu guru yang selama ini dianggap kurang mumpuni agar meningkat kompetensinya secara bertahap.
Sumber: Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Disdik Kepri, Suhadi, S.Sos., M.Si.