KEPRI (DISDIK) – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan secara nyata dalam penyelenggaraan pendidikan melalui akses yang adil, layanan yang merata, serta keberpihakan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
Pesan tersebut disampaikan saat memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-Alun Rangkasbitung, Senin (1/6).
Menurut Fajar, Pancasila tidak boleh hanya menjadi simbol negara atau sekadar materi hafalan di sekolah. Lebih dari itu, nilai-nilainya harus menjadi pedoman dalam setiap kebijakan publik, termasuk dalam pembangunan sektor pendidikan.
“Pancasila harus terasa getarannya dalam pelayanan publik, di ruang-ruang kelas yang jauh dari ibu kota, dan di hati setiap anak Indonesia yang sedang menyalakan harapan untuk masa depan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, komitmen pemerintah menghadirkan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan merupakan implementasi nyata dari Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Pendidikan, kata dia, harus menjadi sarana untuk memanusiakan manusia sekaligus membuka kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berkembang tanpa memandang latar belakang sosial maupun ekonomi.
Dalam kesempatan itu, Fajar menyoroti Program Sekolah Rakyat sebagai salah satu bentuk nyata pelaksanaan nilai keadilan sosial. Program yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tersebut dirancang untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan kelompok rentan.
“Negara harus hadir memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan belajar dan meraih cita-citanya hanya karena keterbatasan ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat dukungan terhadap tumbuh kembang peserta didik melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan laporan pemerintah daerah, pelaksanaan uji coba program tersebut di Kabupaten Lebak berjalan baik dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Fajar menekankan bahwa pemenuhan gizi merupakan fondasi penting bagi keberhasilan proses belajar. Karena itu, pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan program agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh peserta didik di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemilihan Kabupaten Lebak sebagai lokasi peringatan Hari Lahir Pancasila bukan tanpa alasan. Daerah tersebut memiliki nilai historis yang kuat sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan, sebagaimana tergambar dalam novel Max Havelaar karya Multatuli yang lahir dari pengalamannya bertugas di wilayah tersebut.
Menurutnya, sejarah itu menjadi pengingat bahwa negara harus selalu berpihak pada kemanusiaan, menjunjung keadilan, dan menghadirkan pelayanan yang melindungi seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakang.
Fajar juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan perekat yang mempersatukan keberagaman bangsa Indonesia. Pancasila bukan untuk menyeragamkan perbedaan, melainkan menjadi rumah bersama yang menjaga persatuan di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan golongan.
Nilai inklusivitas tersebut, lanjutnya, juga tercermin dalam penghormatan terhadap Masyarakat Adat Baduy yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Lebak. Menurutnya, pembangunan pendidikan harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, penghormatan terhadap kearifan lokal, serta upaya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Pada kesempatan yang sama, Wamendikdasmen mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengkaji penguatan pengajaran bahasa asing di sekolah sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan global peserta didik. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung diplomasi budaya Indonesia sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Sejalan dengan tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, Fajar mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila bukan hanya untuk diperingati, tetapi untuk dihidupi. Nilai-nilainya harus tercermin dalam cara kita melayani, mendidik, bekerja, dan membangun masa depan bangsa,” pungkasnya.
Sumber : kemendikdasmen.go.id