Kemendikdasmen Dukung Residensi Rimbaud, Perkuat Diplomasi Bahasa dan Sastra Indonesia–Prancis

17 September 2026, 09:01 WIB 32 kali dibaca
Kategori : Nasional
-f/sc/kemendikdasmen.go.id

SEMARANG – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat diplomasi bahasa dan sastra sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan Indonesia dan Prancis.

Dukungan tersebut ditunjukkan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, yang mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah saat menyambut penulis Prancis Louis-Philippe Dalembert di Semarang, Jumat (11/9/2026).

Kehadiran Dalembert di Semarang merupakan bagian dari Program Residensi Rimbaud, program residensi sastra yang digagas Kedutaan Besar Prancis dan Institut français d’Indonésie (IFI) bersama Pemerintah Kota Semarang.

Program ini menjadi ruang perjumpaan antara penulis internasional dengan masyarakat, akademisi, penulis, mahasiswa, dan komunitas sastra. Interaksi tersebut diharapkan dapat memperkaya proses kreatif sekaligus membuka peluang lahirnya karya yang merekam pengalaman Indonesia dari perspektif penulis internasional.

Hafidz mengatakan, keterlibatan Kemendikdasmen dalam Residensi Rimbaud merupakan bagian dari upaya memperluas peran bahasa dan sastra sebagai instrumen diplomasi.

Menurutnya, interaksi kebudayaan melalui karya sastra dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan Indonesia secara lebih mendalam, sekaligus membangun pemahaman dan hubungan antarmasyarakat kedua negara.

“Badan Bahasa secara terbuka mendukung Louis-Philippe Dalembert dalam menghasilkan karya sastra selama berada di Semarang. Melalui Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, kami akan membantu memberikan informasi serta fasilitasi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan literasi,” ujar Hafidz.

Bahasa dan Sastra Jadi Jembatan Diplomasi

Residensi Rimbaud mengambil nama penyair Prancis Arthur Rimbaud. Semarang dipilih sebagai lokasi program karena memiliki keterkaitan historis dengan Rimbaud. Pada 1876, penyair tersebut pernah tiba di Semarang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Salatiga.

Louis-Philippe Dalembert, novelis dan penyair kelahiran Haiti yang kini bermukim di Paris, menjadi penulis pertama yang mengikuti program tersebut.

Selama tiga bulan, September hingga November 2026, Dalembert akan menjalani proses kreatif di Semarang. Selain berkarya di sejumlah lokasi, termasuk Lawang Sewu, ia juga akan berinteraksi dengan penulis, mahasiswa, peneliti, pembaca, dan komunitas sastra melalui berbagai diskusi dan lokakarya.

Pertemuan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan karya sastra, tetapi juga memperluas pertukaran pengetahuan dan pengalaman kebudayaan antara Indonesia dan Prancis.

Dalam konteks diplomasi, bahasa dan sastra memiliki peran penting karena tidak hanya menjadi sarana komunikasi dan ekspresi budaya, tetapi juga dapat membuka ruang pemahaman lintas bangsa.

Karya Dalembert dalam bahasa Prancis nantinya diharapkan turut memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi Indonesia kepada pembaca internasional.

Untuk mendukung proses tersebut, Badan Bahasa melalui Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah akan memberikan informasi dan fasilitasi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan literasi.

Kerja Sama Kebudayaan Indonesia–Prancis

Program Residensi Rimbaud sebelumnya diluncurkan di kediaman Duta Besar Prancis untuk Indonesia di Jakarta, 10 September 2026.

Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari penguatan kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Prancis.

Kerja sama itu sejalan dengan Deklarasi Bersama Strategi Kebudayaan (Borobudur Declaration), yang disepakati dalam kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada Mei 2025.

Ke depan, Kedutaan Besar Prancis dan IFI juga merencanakan pengembangan program residensi serupa di berbagai wilayah Indonesia, termasuk program yang berfokus pada penulisan dan penerjemahan.

Melalui dukungan terhadap Residensi Rimbaud, Kemendikdasmen menempatkan bahasa dan sastra sebagai bagian penting dalam diplomasi pendidikan dan kebudayaan.

Kehadiran penulis internasional di Indonesia diharapkan tidak berhenti pada proses penciptaan karya, tetapi juga mendorong pertukaran pengetahuan, memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya Indonesia kepada dunia, serta memperkuat jejaring kerja sama kebahasaan dan kesastraan antara Indonesia dan negara mitra.


Sumber : kemendikdasmen.go.id

Editor: Ependi Abidin, S.S