Kolaborasi Pemerintah dan Sekolah Swasta Perkuat Pendidikan Bermutu dan Karakter Bangsa

24 Mei 2026, 07:35 WIB 105 kali dibaca
Kategori : Nasional
-f/sc/kemendikdasmen.go.id

KEPRI (DISDIK) -Kolaborasi antara pemerintah dan sekolah swasta dinilai menjadi kunci penting dalam memperkuat pendidikan bermutu sekaligus membangun karakter generasi bangsa. Hal itu ditegaskan dalam peresmian Sekolah Bakti Mulya 400 Depok, Jawa Barat, Sabtu (24/5/2026).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara pendidikan swasta yang selama ini turut mendukung layanan pendidikan berkualitas di Indonesia.

Menurutnya, kondisi pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan yang beragam, mulai dari sekolah dengan fasilitas lengkap hingga sekolah yang masih minim peminat.

“Realitas pendidikan di Indonesia ini memang ada sekolah yang megah, ada sekolah yang muridnya banyak, tetapi ada juga beberapa sekolah yang pendaftarnya satu,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menegaskan, kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya membangun pendidikan yang inklusif dan saling menguatkan demi pemerataan mutu pendidikan bagi seluruh peserta didik.

Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa sekolah swasta merupakan mitra strategis pemerintah dalam memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Saya sering mengatakan jika sekolah swasta adalah mitra pemerintah,” tegasnya.

Menurutnya, semangat kolaborasi itu sejalan dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menjamin setiap warga negara memperoleh pendidikan bermutu.

Ia menambahkan, seluruh sekolah, baik sekolah unggulan maupun sekolah sederhana, memiliki tanggung jawab yang sama dalam menghadirkan pendidikan berkualitas serta membentuk karakter peserta didik.

“Apakah sekolah itu sekolah elite atau sekolah yang sederhana, semuanya haruslah sekolah yang bermutu dan sekolah yang memiliki kualitas,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga mengapresiasi pendekatan pendidikan yang diterapkan Sekolah Bakti Mulya 400 karena dinilai tidak hanya fokus pada kompetensi akademik, tetapi juga membangun nilai kebangsaan dan kepribadian peserta didik.

“Kami berterima kasih kepada Bakti Mulya 400 yang telah memberikan model pembelajaran yang berkualitas bagi generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah saat ini terus memperkuat ekosistem pendidikan melalui revitalisasi sarana dan prasarana, digitalisasi sekolah, hingga peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru guna mewujudkan pemerataan mutu pendidikan.

Selain itu, ia menekankan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada aspek akademik, melainkan juga harus mampu membentuk integritas, nasionalisme, dan karakter peserta didik.

“Pendidikan tidak hanya proses untuk mendidik anak-anak bangsa ini pandai mengerjakan soal atau keterampilan teknokratik, tapi juga harus membentuk integritas, nasionalisme, dan komitmen untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.

Di akhir sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan berkualitas menjadi fondasi utama dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia yang kuat dan bermartabat.

“Presiden Prabowo Subianto berkali-kali menegaskan pentingnya Indonesia memiliki generasi yang unggul dan kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang bermartabat. Pilihannya adalah pendidikan yang berkualitas,” pungkasnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Bakti Mulya 400, Sutrisno Muslimin, mengatakan Sekolah Bakti Mulya 400 Depok dirancang untuk mencetak generasi yang unggul secara akademik sekaligus kuat dalam karakter dan jati diri kebangsaan.

“Ada tiga capaian besar BM 400 yaitu membentuk generasi religius, nasionalis, dan internasionalis,” ujarnya.

Sutrisno menjelaskan, nilai religius diwujudkan melalui pembentukan akhlak, integritas, kejujuran, disiplin, dan empati dalam kehidupan sehari-hari siswa. Sementara nilai nasionalisme ditanamkan agar peserta didik memiliki kecintaan dan kepedulian terhadap Indonesia.

“Nasionalis di Bakti Mulya 400 adalah kesadaran bahwa pendidikan bertujuan menyiapkan generasi yang mencintai, memahami dan berkontribusi bagi Indonesia,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa wawasan internasional yang dibangun sekolah bukan berarti meninggalkan identitas bangsa, melainkan mempersiapkan siswa menjadi warga dunia yang tetap berakar pada nilai-nilai Indonesia.

“Internasionalis bukan berarti kebarat-baratan tetapi kesiapan untuk menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri,” tutup Sutrisno.


Sumber : kemendikdasmen.go.id

Editor: Ependi Abidin, S.S