JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat kualitas pendidikan nasional melalui perbaikan sarana dan prasarana sekolah, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, hingga penguatan karakter peserta didik. Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah merevitalisasi lebih dari 55.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan kesempatan belajar yang layak dan berkualitas, tanpa terkendala kondisi geografis, keterbatasan fasilitas, maupun latar belakang ekonomi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan, terutama dalam memastikan seluruh sekolah memiliki fasilitas belajar yang aman dan memadai.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia unggul sebagaimana tertuang dalam Asta Cita keempat harus dimulai dari pembenahan pendidikan dasar dan menengah.
“Pak Presiden berkali-kali menyampaikan tidak boleh ada sekolah yang atapnya roboh, tidak boleh ada yang toiletnya kotor, tidak boleh ada kelas yang rusak dan sebagainya,” ujar Abdul Mu'ti dalam program One on One tvOne, Jumat (30/10/2026).
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kemendikdasmen mempercepat program revitalisasi sekolah, khususnya satuan pendidikan dengan tingkat kerusakan berat, sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah yang terdampak bencana.
Hingga saat ini, lebih dari 55.000 satuan pendidikan telah direvitalisasi. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi hampir 80.000 satuan pendidikan hingga akhir 2026.
Upaya pemulihan juga dilakukan terhadap sekolah-sekolah yang terdampak bencana di Sumatra. Abdul Mu'ti menyebutkan, sebanyak 98 persen sekolah terdampak telah dibangun kembali dan seluruhnya sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran secara normal, meskipun sebagian masih menerapkan sistem pergantian waktu belajar.
Selain pembenahan infrastruktur, pemerintah juga memperluas digitalisasi pendidikan untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik.
Sepanjang 2025, Kemendikdasmen telah mendistribusikan lebih dari 288.865 unit papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP) ke berbagai satuan pendidikan. Pada 2026, pemerintah menargetkan penambahan lebih dari 700.000 perangkat sehingga total distribusi dalam dua tahun dapat melampaui satu juta unit.
Abdul Mu'ti menegaskan, digitalisasi bukan sekadar menyediakan perangkat teknologi di sekolah. Program tersebut harus didukung kesiapan guru, ketersediaan materi pembelajaran, serta infrastruktur penunjang.
“Program digitalisasi itu paketnya ada empat. Pertama tentu saja adalah perangkatnya, yang kedua adalah laptop, yang ketiga yaitu pelatihan guru, dan yang keempat adalah fasilitas pendukung seperti internet, listrik, dan juga materi pembelajarannya,” jelasnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut juga membuka peluang pembelajaran yang lebih inklusif, termasuk bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Fitur audio pada IFP, misalnya, dapat membantu murid tunanetra mengikuti pembelajaran. Sementara itu, sejumlah guru di sekolah luar biasa di Kudus telah mengembangkan materi pembelajaran berbantuan kecerdasan artifisial (AI) bagi murid tunarungu.
Perangkat digital tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium virtual untuk membantu peserta didik memahami berbagai konsep sains melalui simulasi.
Untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur di sejumlah wilayah, Kemendikdasmen bekerja sama dengan PLN dalam penyediaan akses listrik. Pemerintah juga menyiapkan panel surya bagi sekolah yang belum terjangkau jaringan listrik. Bahkan, IFP dilengkapi fasilitas penyimpanan materi pembelajaran sehingga tetap dapat digunakan meskipun sekolah belum memiliki akses internet.
Di samping infrastruktur dan teknologi, peningkatan kualitas guru menjadi perhatian penting pemerintah. Kemendikdasmen menjalankan kebijakan peningkatan kualitas guru melalui pendekatan 3K, yakni kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan.
Bagi lebih dari 200.000 guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan D4 atau S1, pemerintah memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dengan dukungan beasiswa sebesar Rp3 juta per semester untuk setiap guru.
Peningkatan kompetensi juga dilakukan melalui berbagai program pelatihan, antara lain pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, STEM (Sains, Teknologi, Enjinering atau Rekayasa, dan Matematika), serta bahasa Inggris.
Sementara dari sisi kesejahteraan, tunjangan sertifikasi guru non-ASN meningkat dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Adapun insentif bagi guru yang belum bersertifikat naik dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan.
Pemerintah juga mendorong pendekatan pembelajaran yang lebih memperhatikan kebutuhan dan perkembangan setiap peserta didik. Salah satunya melalui penguatan peran guru wali yang tidak hanya mendampingi perkembangan akademik, tetapi juga membantu mengidentifikasi persoalan psikologis, kesulitan belajar, hingga kondisi keluarga yang dapat memengaruhi proses pendidikan.
Selain itu, pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi salah satu instrumen evaluasi untuk membantu guru, orang tua, dan peserta didik mengetahui capaian pembelajaran serta aspek yang masih perlu ditingkatkan.
Ke depan, Kemendikdasmen akan terus mempercepat revitalisasi sekolah, memperluas digitalisasi pembelajaran, dan meningkatkan kapasitas guru melalui berbagai program pelatihan serta kerja sama dengan mitra internasional, termasuk Inovasi Australia dan McGill University Kanada.
Abdul Mu'ti menegaskan, transformasi pendidikan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pemerintah, guru, orang tua, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan harus bergerak bersama untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang semakin berkualitas.
Ia juga mengingatkan bahwa semangat belajar harus terus tumbuh, tidak hanya di kalangan peserta didik, tetapi juga para pendidik.
“Murid jadilah pembelajar sepanjang hayat. Guru juga jadilah pendidik dan pembelajar sepanjang hayat,” pesannya.
Sumber: kemendikdasmen.go.id