JAKARTA — Perubahan wajah pendidikan tidak selalu dimulai dari hal besar. Ruang kelas yang lebih nyaman, fasilitas sekolah yang lebih layak, hingga hadirnya teknologi dalam proses belajar menjadi langkah penting untuk menciptakan pengalaman pendidikan yang lebih baik bagi peserta didik.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran, pemerintah terus mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, sepanjang 2025 program revitalisasi telah menjangkau 16.167 satuan pendidikan. Pada tahun yang sama, pemerintah juga mendistribusikan Interactive Flat Panel (IFP) ke berbagai sekolah sebagai bagian dari percepatan digitalisasi pembelajaran.
“Alhamdulillah tahun 2025 revitalisasi 16.167 satuan pendidikan berjalan dengan lancar, demikian pula distribusi IFP ke sekolah-sekolah. Budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan kebijakan Kemendikdasmen dalam rangka menumbuhkan iklim belajar yang humanis, inklusif, dan partisipatif,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, revitalisasi satuan pendidikan juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang sejalan dengan gerakan Presiden melalui konsep ASRI, yakni Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
Membuka Akses Pembelajaran di Daerah 3T
Dampak program tersebut mulai dirasakan satuan pendidikan di berbagai wilayah, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Di Kabupaten Keerom, Papua, misalnya, revitalisasi tidak hanya membuat lingkungan sekolah menjadi lebih nyaman, tetapi juga memberikan pengalaman baru bagi peserta didik melalui pemanfaatan teknologi digital.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom, Deivy Regar, mengatakan perubahan tersebut sangat dirasakan oleh guru maupun peserta didik.
“Program revitalisasi pendidikan ini sangat bermanfaat dan sangat terasa sekali untuk satuan pendidikan yang ada di kabupaten kami. Program ini menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman untuk guru maupun peserta didik di sekolah kami,” kata Deivy.
Ia menambahkan, digitalisasi memberikan warna baru dalam proses pembelajaran. Peserta didik yang sebelumnya terbiasa dengan pembelajaran konvensional kini memiliki kesempatan untuk mengakses berbagai sumber belajar dan mengikuti perkembangan teknologi.
“Dengan adanya bantuan digitalisasi ini membuat peserta didik kami lebih belajar dan membuka akses serta suasana baru yang selama ini pembelajarannya bersifat konvensional. Sekarang dengan adanya digitalisasi, anak-anak kami bisa lebih mengikuti perkembangan zaman di era digitalisasi,” ujarnya.
Namun, Deivy menilai keberlanjutan digitalisasi perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas guru. Dengan begitu, perangkat dan teknologi yang tersedia tidak hanya menjadi fasilitas tambahan, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan untuk memperkuat proses pembelajaran.
Menjembatani Kesenjangan Kota dan Pedalaman
Harapan serupa muncul dari Provinsi Kalimantan Tengah. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, menyebut revitalisasi dan digitalisasi sebagai peluang untuk memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah pedalaman.
“Program revitalisasi dan digitalisasi pendidikan ini adalah harapan baru bagi kita, khususnya anak-anak pedalaman di Kalimantan Tengah. Dengan adanya program revitalisasi dan digitalisasi itu bisa menyamaratakan kualitas pembelajaran antara yang di kota, pedesaan, maupun pedalaman,” ujar Reza.
Salah satu upaya yang dikembangkan adalah Kelas Digital Huma Betang, yang memanfaatkan pembelajaran hibrida untuk mengatasi keterbatasan tenaga pendidik.
Dengan dukungan konektivitas internet dan perangkat Starlink dari pemerintah provinsi, guru dapat mengajar peserta didik dari lokasi yang berbeda. Model tersebut juga menjadi solusi untuk sejumlah mata pelajaran yang sebelumnya terkendala keterbatasan guru.
Sekolah Lebih Nyaman, Pembelajaran Lebih Interaktif
Perubahan fisik sekolah juga terlihat di Provinsi Banten. Sebanyak 110 sekolah menjadi penerima manfaat program revitalisasi pada 2025.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Jamaluddin, mengatakan program tersebut memberikan perubahan yang nyata, terutama bagi sekolah yang sebelumnya mengalami kerusakan atau belum memiliki ruang kelas yang memadai.
“Provinsi Banten Alhamdulillah di tahun kemarin mendapatkan 110 sekolah penerima manfaat revitalisasi. Saya cukup bangga melihat sekolah-sekolah yang tadinya di daerah selatan seperti Lebak, Pandeglang, termasuk di kota juga, sekolah yang rusak, tidak punya RKB (Ruang Kelas Baru), sekarang anak-anak kita sekolah dengan nyaman dan kondusif,” kata Jamaluddin.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Pemerintah Provinsi Banten melalui APBD.
Selain memperbaiki sarana dan prasarana, digitalisasi turut mendorong pembelajaran yang lebih interaktif. Kehadiran IFP memungkinkan guru menyajikan materi secara lebih menarik dan mendukung pembelajaran peserta didik, termasuk mereka yang harus mengikuti kegiatan belajar dari rumah.
Tantangan Digitalisasi di Wilayah Konflik
Sementara itu, di Kabupaten Intan Jaya, Papua, revitalisasi menjadi harapan baru bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah dengan tantangan geografis dan sosial yang kompleks.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya, Ertinus, mengatakan program revitalisasi memberikan peluang bagi sekolah untuk kembali menghadirkan lingkungan belajar yang lebih baik setelah wilayah tersebut menghadapi konflik berkepanjangan.
Namun, pengembangan digitalisasi masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan jaringan internet dan listrik.
Karena itu, menurut Ertinus, dukungan digitalisasi perlu disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Penyediaan perangkat teknologi harus berjalan beriringan dengan kesiapan infrastruktur agar fasilitas yang diberikan benar-benar dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi satuan pendidikan.
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi dan digitalisasi bukan sekadar pembangunan fisik maupun penyediaan perangkat teknologi. Lebih dari itu, kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih baik dan memperluas kesempatan peserta didik untuk mendapatkan pendidikan bermutu.
Dari ruang kelas yang lebih nyaman di Banten, pembelajaran digital di pedalaman Kalimantan Tengah, hingga terbukanya akses teknologi bagi peserta didik di wilayah 3T Papua, perubahan tersebut menjadi langkah penting untuk memperkecil kesenjangan pendidikan dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan belajar yang layak.
Sumber : kemendikdasmen.go.id